“Membangun Generasi Emas dari Pegunungan Mamasa: Tantangan Pendidikan Inklusif Daerah 3T”
Martha Palinggi, M.Pd
Kolumnis TamuPendidikan Pedalaman & Pemberdayaan Komunitas Adat
Aktivis Pendidikan Inklusif Daerah 3T dan Penggiat Komunitas Literasi Banua Sibatang Pegunungan Mamasa.
Ketika kabut tebal masih menyelimuti lembah Balla dan Tabang di pagi buta, anak-anak dengan seragam merah putih lusuh telah melangkah menyusuri pematang terjal berlumpur. Jarak tempuh satu hingga dua jam jalan kaki melintasi jembatan gantung reyot adalah rutinitas sehari-hari mereka demi mencapai bangku sekolah dasar terdekat.
Di balik keelokan lanskap pegunungan Kabupaten Mamasa yang kerap dijuluki Swiss-nya Sulawesi Barat, realitas fasilitas pendidikan di pelosok pedalaman masih memanggil nurani kemanusiaan kita bersama.
Jurang Digital di Tengah Kurikulum Merdeka Belajar
Di kota-kota besar, kurikulum pendidikan mengalir mulus melalui tablet pintar dan jaringan internet pita lebar berkecepatan tinggi. Namun di puluhan desa pedalaman Mamasa, guru-guru honorer berdedikasi masih harus berjuang mencari satu titik sinyal di puncak bukit hanya untuk mengunggah lembar administrasi asesmen nasional.
Ketimpangan ini tidak boleh dianggap takdir yang wajar. Kebijakan alokasi 20 persen anggaran APBD pendidikan harus benar-benar menyentuh perbaikan ruang kelas bocor, penyediaan buku bacaan bergambar berkualitas, serta insentif layak bagi para guru pejuang yang mengabdi di pelosok terpencil.
Sentuhan Kearifan Adat Banua Sibatang
Pendidikan sejati di tanah Kondosapata Mamasa tidak boleh mencabut anak-anak dari akar budayanya. Filosofi gotong royong Mebaluk dan kearifan menjaga hutan adat yang diwariskan para tetua harus berpadu harmonis dengan sains dan penguasaan bahasa global.
Dari balik bilik-bilik bambu sekolah pegunungan Mamasa inilah calon dokter, ilmuwan lingkungan, dan pemimpin masa depan Indonesia akan lahir, asalkan negara hadir dengan keberpihakan anggaran yang jujur dan konsisten.
