SitammuNews - Titik Temu Informasi Akurat & Berimbang
opiniBiro MamasaWarta Terverifikasi

Membangun Generasi Emas dari Pegunungan Mamasa: Tantangan Pendidikan Inklusif Daerah 3T

Keterbatasan akses sinyal digital dan sarana fisik sekolah pelosok Mamasa bukan alasan memadamkan hak belajar anak-anak pelosok Kondosapata.

MP
Martha Palinggi, M.PdWartawan Utama
Selasa, 13 Oktober 2026 pukul 17.15 WITA
4 mnt bacaBaru Tayang tayangan
Membangun Generasi Emas dari Pegunungan Mamasa: Tantangan Pendidikan Inklusif Daerah 3T
📷 Keterangan:Aktivitas belajar anak-anak di salah satu sekolah dasar pelosok pegunungan Mamasa. (Foto: Komunitas Literasi)
WhatsAppFacebookThreadsX

Ketika kabut tebal masih menyelimuti lembah Balla dan Tabang di pagi buta, anak-anak dengan seragam merah putih lusuh telah melangkah menyusuri pematang terjal berlumpur. Jarak tempuh satu hingga dua jam jalan kaki melintasi jembatan gantung reyot adalah rutinitas sehari-hari mereka demi mencapai bangku sekolah dasar terdekat.

Di balik keelokan lanskap pegunungan Kabupaten Mamasa yang kerap dijuluki Swiss-nya Sulawesi Barat, realitas fasilitas pendidikan di pelosok pedalaman masih memanggil nurani kemanusiaan kita bersama.

Jurang Digital di Tengah Kurikulum Merdeka Belajar

Di kota-kota besar, kurikulum pendidikan mengalir mulus melalui tablet pintar dan jaringan internet pita lebar berkecepatan tinggi. Namun di puluhan desa pedalaman Mamasa, guru-guru honorer berdedikasi masih harus berjuang mencari satu titik sinyal di puncak bukit hanya untuk mengunggah lembar administrasi asesmen nasional.

Ketimpangan ini tidak boleh dianggap takdir yang wajar. Kebijakan alokasi 20 persen anggaran APBD pendidikan harus benar-benar menyentuh perbaikan ruang kelas bocor, penyediaan buku bacaan bergambar berkualitas, serta insentif layak bagi para guru pejuang yang mengabdi di pelosok terpencil.

Sentuhan Kearifan Adat Banua Sibatang

Pendidikan sejati di tanah Kondosapata Mamasa tidak boleh mencabut anak-anak dari akar budayanya. Filosofi gotong royong Mebaluk dan kearifan menjaga hutan adat yang diwariskan para tetua harus berpadu harmonis dengan sains dan penguasaan bahasa global.

Dari balik bilik-bilik bambu sekolah pegunungan Mamasa inilah calon dokter, ilmuwan lingkungan, dan pemimpin masa depan Indonesia akan lahir, asalkan negara hadir dengan keberpihakan anggaran yang jujur dan konsisten.

Bagaimana Tanggapan Anda?

Sampaikan respon Anda terhadap isu warta ini dalam 1 klik

0 suara pembaca
Rujukan Liputan Asli

Baca kelanjutan artikel selengkapnya »

Naskah warta ini merupakan liputan asli & investigasi independen Meja Redaksi SitammuNews.

📰 Sumber liputan:Redaksi SitammuNews
Diverifikasi oleh Redaksi SITAMMUNEWS
”
MP

Martha Palinggi, M.Pd

Koresponden Daerah & Redaktur Mamasa

Berdedikasi menyajikan warta akurat, cerdas, dan berimbang seputar 6 Kabupaten Sulawesi Barat serta kurasi strategis nasional dari sumber terpercaya untuk mencerahkan wawasan publik.

KOTAK ATRIBUSI & TRANSPARANSI REDAKSI
Liputan / Koresponden:

Biro Khusus Mamasa (SitammuNews)

Penyelaras Bahasa & QC Jurnalistik:

Meja Redaktur Pelaksana SitammuNews (Standar PUEBI 5W+1H)

Pemberitaan ini tunduk pada UU No. 40/1999 tentang Pers dan Pedoman Pemberitaan Media Siber Dewan Pers. Pihak yang merasa dirugikan oleh materi liputan ini berhak mengajukan Hak Jawab dan Klarifikasi 24 Jam ke meja redaksi.
Peluang Karir Mandar

Mencari Pekerjaan di Sulawesi Barat?

Temukan lowongan kerja terverifikasi BUMN, korporasi perkebunan, dan instansi daerah di 6 kabupaten.

Buka Bursa Karir

BACA BERITA TERKAIT LAINNYA

Lihat Semua Kabar